
I.
DEFINISI
Child Abuse : perlakuan salah
terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya
dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
Secara umum Child abuse dimana
termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom
perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir
yang paling berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya /
pengasuh. (Fontana, 1998)
II.
FAKTOR
PENYEBAB CHILD ABUSE
Perlakuan salah terhadap anak
bersifat multidimensional, tetapi ada 3 faktor pentingyang berperan dalam
terjadinya perlakuan salah pada anak, yaitu:
1.Karakteristik Orangtua Dan Keluarga
Faktor-faktor
yang banyak terjadi dalamkeluarga dengan child abuse antara lain:
a) Para
orangtua juga penderita perlakuan salah pada masa kanak-kanak.
b) Orangtua
yang agresif dan impulsif.
c) Keluarga
dengan hanya satu orangtua.
d) Orangtua
yang dipaksa menikah saat belasan tahun sebelum siap secara emosionaldan
ekonomi.
e) Perkawinan
yang saling mencederai pasangan dalam perselisihan.
f) Tidak
mempunyai pekerjaan.
g) Jumlah
anak yang banyak.
h) Adanya
konflik dengan hukum.
i)
Ketergantungan obat, alkohol, atau sakit jiwa.
j)
Kondisi lingkungan yang terlalu padat.
k) Keluargayang
baru pindah ke suatu tempat yang baru dan tidak mendapatdukungan dari sanak
keluarga serta kawan-kawan
2. Karakteristik Anak Yang Mengalami Perlakuan Salah
Beberapa faktor anak yang
berisiko tinggi untuk perlakuan salah adalah:
a) Anak
yang tidak diinginkan.
b) Anak
yang lahir prematur, terutama yang mengalami komplikasi
neonatal, berakibat adanya keterikatan bayi dan orangtua yang membutuhkan
perawatanyang berkepanjangan.
c) Anak
dengan retardasi mental, orangtua merasa malu.
d) Anak
dengan malformasi, anak mungkin ditolak.
e) Anak
dengan kelainan tingkah laku seperti hiperaktif mungkin terlihat nakal.
f) Anak
normal, tetapi diasuh oleh pengasuh karena orangtua bekerja
3. Beban Dari Lingkungan: Lingkungan Hidup Dapat Meningkatkan Beban
Terhadap Perawatan Anak.
Penelitian yang telah dilakukan
menyatakan bahwa penyiksaan anak dilakukan olehorang tua dari banyak etnis,
letak geografis, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan socialekonomi.
Kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meningkatkan
laporan penyiksaan fisik terhadap anak-anak. Hal ini mungkin disebabkan
karena:
a) Peningkatan
krisis di tempat tinggal mereka (contoh: tidak bekerja atau hidup yang berdesakan).
b) Akses
yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis.
c) Peningkatan
jumlah kekerasan di tempat tinggal mereka.
d) Hubungan
antara kemiskinan dengan faktor resiko seperti remaja dan orang tuatunggal
(single parent).(Hidayat,2008)
III.
KLASIFIKASI
CHILD ABUSE
A.
Emotional Abuse
Perlakuan yang dilakukan olehorang tua seperti
menolak anak, meneror,mengabaikan anak, atau mengisolasi anak. Hal tersebut
akan membuat anak merasa dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk atau
tidak bernilai. Hal ini akanmenyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental
dan emosional anak.
Indikator fisik kelainan bicara, gangguan
pertumbuhan fisik dan perkembangan. Indikator perilakukelainan kebiasaan (
menghisap, mengigit, ataumemukul-mukul ).
B. Physical Abuse
Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan
karena kecelakaan atautindakan yang dapat menyebabkan cedera serius pada anak,
atau dapat jugadiartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga
mencederaianak.
Biasanya berupa luka memar, luka bakar atau
cedera di kepala atau lengan.Indikator fisik–luka memar, gigitan manusia, patah
tulang, rambut yangtercabut, cakaran. Indikator perilaku–waspada saat bertemu
degan orang dewasa, berperilaku ekstrem seperti agresif atau menyendiri,
takut pada orang tua, takutuntuk pulang ke rumah, menipu, berbohong, mencuri.
C. Neglect (Mengabaikan)
Kegagalan orang tua untuk memberikan
kebutuhan yang sesuai bagi anak,seperti tidak memberikan rumah yang aman,
makanan, pakaian, pengobatan, ataumeninggalkan anak sendirian atau dengan
seseorang yang tidak dapat merawatnya.
Indikator fisik–kelaparan, kebersihan diri
yang rendah, selalu mengantuk,kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak
ditangani.Indikator kebiasaan. Meminta atau mencuri makanan, sering tidur,
kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian
yang kurang memadai ( pada musim dingin ), ditinggalkan
D. Sex Abuse
Termasuk menggunakan anak untuk tindakan
sexual, mengambil gambar pornografi anak-anak, atau aktifitas sexual
lainnya kepada anak. Indikator fisik ,kesulitan untukberjalan atau duduk, adanya
noda atau darah di baju dalam, nyeriatau gatal di area genital, memar atau
perdarahan di area genital / rektal, berpenyakit kelamin.
Indikator kebiasaan pengetahuan tentang
seksual atau sentuhan seksualyang tidak sesuai dengan usia, perubahan pada
penampilan, kurang bergauldengan teman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam
kegiatan fisik, berperilaku permisif / berperilaku yang menggairahkan,
penurunan keinginan untuk sekolah,gangguan tidur, perilaku regressif ( misal:
ngompol ).
IV.
DAMPAK
CHILD ABUSE

Moore(dalam Nataliani, 2004)
menyebutkan bahwa efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat
diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadinegatif dan
agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada
yangtidakmempunyai kepibadian sendiri; ada yang sulit menjalin relasi dengan
individu lain danada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap
dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik,
seperti perkembangan tubuh kurang normal jugarusaknya sistem syaraf.
Anak-anak korban kekerasan
umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di
kemudian hari. Bahkan, Komnas PA (dalam Nataliani, 2004)mencatat, seorang anak
yang berumur 9 tahun yang menjadi korban kekerasan, memiliki keinginan untuk
membunuh ibunya.
Berikut ini adalah dampak-dampak
yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (childabuse), antara lain;
a) Dampak Kekerasan Fisik,
anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanyaakan menjadi sangat
agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejamkepada anak-anaknya.
Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya
akanmenjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalamSitohang, 2004)
menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental adahubungannya dengan perlakuan
buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil.Kekerasan fisik yang
berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera
serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga
menyebabkan korban meninggal dunia
b) Dampak Kekerasan Psikis
Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya,
apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping
mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan
kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan
alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia
(1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena
tidak meninggalkan bekas yangnyata seperti penyiksaan fisik.
Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yangtersembunyi yang
termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri,
kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri darilingkungan,
penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.
c) Dampak Kekerasan Sexual
Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korbanyang masih merasa
dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dantrauma akibat
eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudahmenikah.
Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak
banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi.
Jika kekerasan seksualterjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk
yang ditimbulkan antara lain dariyang biasanya tidak mengompol jadi mengompol,
mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau
bahkan simtom fisik seperti sakit perutatau adanya masalah kulit, dll (dalam
Nadia, 1991)
d) Dampak Penelantaran Anak
Pengaruh
yang paling terlihat jika anak mengalami hal iniadalah kurangnya perhatian dan
kasih sayang orang tua terhadap anak,Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang
kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman,
gagal mengembangkan perilaku akrab, danselanjutnya akan mengalami masalah
penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
V. Contoh Kasus : "Penelantaran Anak Yang Terjadi Di Cibubur"
Anak merupakan anugerah yang diberikan
Tuhan kepada orangtua untuk dirawat dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.
Namun hal ini tidak dirasakan oleh Dani, anak berusia delapan tahun di Cibubur,
Jawa Barat ini justru mendapatkan perlakuan yang buruk dari orangtuanya.
Di usia muda, Dani justru ditelantarkan dan tak diizinkan masuk ke dalam rumah.
Akibatnya, tiap malam Dani terpaksa tidur di pos jaga, sedangkan di siang hari
kegiatannya hanya berkeliling kompleks dengan sepedanya.
"Jadi sebenarnya kasus ini sudah lama terjadi beberapa bulan yang lalu,
namun sempat hilang. Mungkin dia (Dani) mencoba untuk kembali ke rumahnya.
Namun sekarang sekitar sebulan yang lalu kasus ini muncul lagi," jelas
Sugeng Pribadi, Ketua RT 03/11 Kelurahan Jati Karya, Kecamatan Jati Sampurna, Bekasi
ketika dihubungi, Rabu (13/5).
Lebih lanjut Sugeng menjelaskan selain ditelantarkan oleh kedua orangtuanya,
Dani juga sudah tidak bersekolah lagi. Selain itu, beberapa tetangga juga kerap
mendengar jeritan Dani di malam hari, seolah tengah disiksa.
Sementara itu, ketika ada tetangga yang mencoba menampung Dani, khususnya saat
malam hari, maka orangtua Dani akan melabraknya. Orangtua Dani bersikeras,
bahwa upaya itu merupakan caranya dalam mendidik anak.
"Saya belum pernah melihat secara langsung kekerasan tersebut tapi menurut
pengakuan warga yang rumahnya berdekatan, Dani sering nangis pas malam hari dan
dikunciin di dalam rumah. Kata orangtuanya ini sebagai bentuk didikan buat
Dani," imbuh Sugeng.
Akibat dari penelantaran itu, kondisi fisik dan kejiwaan Dani kian
memprihatinkan. Bukan hanya Dani, kondisi saudara perempuannya pun juga turut
memprihatinkan, meski tak mendapat perlakuan yang sama seperti Dani.
Menurut pengakuan Dani, orangtuanya bekerja sebagai dosen di sebuah
universitas. Namun para warga tidak mengetahui jelas pekerjaan mereka.
"Orangtuanya punya empat atau lima anak, semuanya perempuan dan Dani
laki-laki sendirian. Mereka sering keluar kota dan cuma Dani yang engga diajak.
Tapi ketua RT melihat kondisi anak perempuannya juga lusuh. Bahkan semuanya
juga udah enggak sekolah," ujar Sugeng.
Saat ini Dani hanya mendapat bantuan makanan dan pakaian dari tetangga yang
peduli. Warga juga telah mencoba untuk bertemu orangtua Dani, namun tidak ada
jawaban yang memuaskan.
Oleh karena itu, Sugeng bersama warga berencana untuk mendatangi rumah Dani dan
berbicara langsung dengan orangtua Dani. Selain itu, Sugeng juga sudah
berkoordinasi dengan Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) untuk menyelesaikan kasus ini.
"Besok rencana saya mau datang ke rumahnya. Kebetulan Sekjen KPAI juga
sudah saya hubungi karena ada orangnya yang tinggal di dekat rumah Dani. Jadi
sekitar pukul 08.00 WIB, kami akan ke sana. Semoga mereka ada di rumah karena
memang susah ditemui," pungkasnya.
Baca Selengkapnya :
VI. Analisis Kasus
Sesuai dengan definisinya Child Abuse yang termasuk
malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom perlakuan
salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat
dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya / pengasuh. (Fontana, 1998).
Faktor penyebab
penelantaran anak pada kasus diatas adalah karena orang tua si anak mengumsumsi
obat/narkoba hal ini diperkuat Polisi
menemukan paket shabu seberat 0,5 gram yang sudah siap dipakai di lantai dua
rumah yang berlokasi di kawasan Citra Grand, Cibubur, Jawa Barat. Utomo dan
istrinya juga sudah menjalani tes urine dan dinyatakan positif. Keduanya juga
sudah mengaku memakai barang haram tersebut sejak enam bulan yang lalu.
Dalam kasus ini
termasuk klasifikasi child abuse neglect (mengabaikan) karena Kegagalan
orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak,seperti tidak memberikan
rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, atau meninggalkan anak sendirian
atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya.
Indikator fisik–kelaparan, kebersihan diri yang rendah,
selalu mengantuk,kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak
ditangani.Indikator kebiasaan. Meminta atau mencuri makanan, sering tidur,
kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian
yang kurang memadai ( pada musim dingin ), ditinggalkan hal ini juga diperkuat
dengan korban penelantaran anak terjangkit penyakit kulit (cacar) dan sering
terlihat oleh tetangganya tidur di pos
satpam, mereka makan juga diberi oleh tetangga mereka yang merasa iba
dengan kondisi korban.
Dampak child abuse
ini adalah Penelantaran Anak
Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal
iniadalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak,Hurlock
(1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan
berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya
akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
Maka dari itu kelima korban sekarang berada di Safe House
milik KPAI untuk menjalankan proses terapis untuk pemulihan trauma psikis
mereka.
V. DAFTAR PUSTAKA
Anna Budi Keliat,Penganiayaan Dan
Kekerasan Pada Anak . FIK UI, 1998
Dimas, Muhammad Rasyid,.Kesalahan
dalam mendidik anak.Jakarta: Pustaka al-Kautsar,2006.