Sabtu, 30 Mei 2015

HUBUNGAN KESEHATAN MENTAL DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL

I.                    DEFINISI
Kesehatan mental adalah sama pentingnya dengan kesehatan fisik dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, keduanya saling berkaitan, individu dengan masalah kesehatan fisik sering mengalami kecemasan atau depresi yang mempengaruhi respons mereka terhadap penyakit fisik.

Kecerdasan Emosional adalah dalam bahasa inggris emotional quotient, disingkat EQ adalah kemampuan seseorang untuk  menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

II.                  berikut adalah 10 cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional Anda:

1.       Coba rasakan dan pahami perasaan anda.
2.       Jangan menilai atau mengubah perasaan Anda terlalu cepat. 
3.       Lihat bila Anda menemukan hubungan antara perasaan Anda saat ini dengan perasaan yang sama di masa lalu. 
4.       Hubungkan perasaan Anda dengan pikiran Anda.
5.       Dengarkan tubuh Anda. Pusing di kepala saat bekerja mungkin merupakan petunjuk bahwa pekerjaan Anda adalah sumber stres.
6.       Jika Anda tidak tahu bagaimana perasaan Anda, mintalah bantuan orang lain.
7.       Masuk ke alam bawah sadar Anda. Bagaimana Anda lebih menyadari perasaan bawah sadarAnda? Coba asosiasi bebas. Dalam keadaan santai, biarkan pikiran Anda berkeliaran dengan bebas.
8.       Tanyakan pada diri Anda: Apa yang saya rasakan saat ini. 
9.       Tulislah pikiran dan perasaan Anda ketika sedang menurun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan menuliskan pikiran dan perasaan dapat sangat membantu mengenal emosi Anda.

10.   Tahu kapan waktu untuk kembali melihat keluar. Ada saatnya untuk berhenti melihat kedalam diri Anda dan mengalihkan fokus Anda ke luar. Kecerdasan emosional tidak hanyamelibatkan kemampuan untuk melihat ke dalam, tetapi juga untuk hadir di dunia sekitar Anda

Jadi kesehatan mental berhubungan dengan kecerdasan emosional karena ketika emosinal terganggu akan bermuara pada mental seseorang. Salah satu kriteria sehat mental adalah Perasaan-perasaan dan Emosi-emosi yang Positif dan sehat Ketengan dan Kedamaian Pikiran. Seseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik akan memiliki kecerdasan emosional yang baik pula dan mampu mengendalikannya ke hal – hal yang positif yang akan berguna bagi dirinya sendiri maupun orang yang ada disekitarnya.

III. DAFTAR PUSTAKA


  1.  Feist, G. J., & Feist, J. (2010). Theories of personality 7th ed. Jakarta: Salemba Humanika
  2.  Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014). Experience human development 12th ed. Jakarta:Salemba Humanika.


FENOMENA CHILD ABUSE




I.                    DEFINISI
Child Abuse : perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
Secara umum Child abuse dimana termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya / pengasuh. (Fontana, 1998)

II.                  FAKTOR PENYEBAB CHILD ABUSE
Perlakuan salah terhadap anak bersifat multidimensional, tetapi ada 3 faktor pentingyang berperan dalam terjadinya perlakuan salah pada anak, yaitu:
1.Karakteristik Orangtua Dan Keluarga
Faktor-faktor yang banyak terjadi dalamkeluarga dengan child abuse antara lain:

a)      Para orangtua juga penderita perlakuan salah pada masa kanak-kanak.

b)      Orangtua yang agresif dan impulsif.

c)       Keluarga dengan hanya satu orangtua.

d)      Orangtua yang dipaksa menikah saat belasan tahun sebelum siap secara emosionaldan ekonomi.

e)      Perkawinan yang saling mencederai pasangan dalam perselisihan.

f)       Tidak mempunyai pekerjaan.

g)      Jumlah anak yang banyak.

h)      Adanya konflik dengan hukum.

i)        Ketergantungan obat, alkohol, atau sakit jiwa.

j)        Kondisi lingkungan yang terlalu padat.

k)      Keluargayang baru pindah ke suatu tempat yang baru dan tidak mendapatdukungan dari sanak keluarga serta kawan-kawan

2. Karakteristik Anak Yang Mengalami Perlakuan Salah
Beberapa faktor anak yang berisiko tinggi untuk perlakuan salah adalah:

a)      Anak yang tidak diinginkan.

b)      Anak yang lahir prematur, terutama yang mengalami komplikasi neonatal, berakibat adanya keterikatan bayi dan orangtua yang membutuhkan perawatanyang berkepanjangan.

c)       Anak dengan retardasi mental, orangtua merasa malu.

d)      Anak dengan malformasi, anak mungkin ditolak.

e)      Anak dengan kelainan tingkah laku seperti hiperaktif mungkin terlihat nakal.

f)       Anak normal, tetapi diasuh oleh pengasuh karena orangtua bekerja

3. Beban Dari Lingkungan: Lingkungan Hidup Dapat Meningkatkan Beban Terhadap Perawatan Anak.

Penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa penyiksaan anak dilakukan olehorang tua dari banyak etnis, letak geografis, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan socialekonomi. Kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meningkatkan laporan penyiksaan fisik terhadap anak-anak. Hal ini mungkin disebabkan karena:

a)      Peningkatan krisis di tempat tinggal mereka (contoh: tidak bekerja atau hidup yang berdesakan).

b)      Akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis.

c)       Peningkatan jumlah kekerasan di tempat tinggal mereka.

d)      Hubungan antara kemiskinan dengan faktor resiko seperti remaja dan orang tuatunggal (single parent).(Hidayat,2008)

III.                KLASIFIKASI CHILD ABUSE


A.        Emotional Abuse
Perlakuan yang dilakukan olehorang tua seperti menolak anak, meneror,mengabaikan anak, atau mengisolasi anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk atau tidak bernilai. Hal ini akanmenyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental dan emosional anak.
 
Indikator fisik kelainan bicara, gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan. Indikator perilakukelainan kebiasaan ( menghisap, mengigit, ataumemukul-mukul ).


B.      Physical Abuse
Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atautindakan yang dapat menyebabkan cedera serius pada anak, atau dapat jugadiartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederaianak.

 Biasanya berupa luka memar, luka bakar atau cedera di kepala atau lengan.Indikator fisik–luka memar, gigitan manusia, patah tulang, rambut yangtercabut, cakaran. Indikator perilaku–waspada saat bertemu degan orang dewasa, berperilaku ekstrem seperti agresif atau menyendiri, takut pada orang tua, takutuntuk pulang ke rumah, menipu, berbohong, mencuri.

 C.      Neglect (Mengabaikan)
Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak,seperti tidak memberikan rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, ataumeninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya.

 Indikator fisik–kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk,kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak ditangani.Indikator kebiasaan. Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian yang kurang memadai ( pada musim dingin ), ditinggalkan

D.      Sex Abuse
Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual, mengambil gambar  pornografi anak-anak, atau aktifitas sexual lainnya kepada anak. Indikator fisik ,kesulitan untukberjalan atau duduk, adanya noda atau darah di baju dalam, nyeriatau gatal di area genital, memar atau perdarahan di area genital / rektal, berpenyakit kelamin.

 Indikator kebiasaan pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksualyang tidak sesuai dengan usia, perubahan pada penampilan, kurang bergauldengan teman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik, berperilaku permisif / berperilaku yang menggairahkan, penurunan keinginan untuk sekolah,gangguan tidur, perilaku regressif ( misal: ngompol ).


IV.                DAMPAK CHILD ABUSE


Moore(dalam Nataliani, 2004) menyebutkan bahwa efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadinegatif dan agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yangtidakmempunyai kepibadian sendiri; ada yang sulit menjalin relasi dengan individu lain danada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh kurang normal jugarusaknya sistem syaraf.

Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Bahkan, Komnas PA (dalam Nataliani, 2004)mencatat, seorang anak yang berumur 9 tahun yang menjadi korban kekerasan, memiliki keinginan untuk membunuh ibunya.

Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (childabuse), antara lain;

a)      Dampak Kekerasan Fisik,

anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanyaakan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejamkepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akanmenjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalamSitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental adahubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil.Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia



b)      Dampak Kekerasan Psikis

Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yangnyata seperti penyiksaan fisik.

 Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yangtersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri darilingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.



c)       Dampak Kekerasan Sexual

Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korbanyang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dantrauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudahmenikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi.
 
Jika kekerasan seksualterjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dariyang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perutatau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991)



d)      Dampak Penelantaran Anak

Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal iniadalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak,Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, danselanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

V. Contoh Kasus : "Penelantaran Anak Yang Terjadi Di Cibubur"


Anak merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada orangtua untuk dirawat dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Namun hal ini tidak dirasakan oleh Dani, anak berusia delapan tahun di Cibubur, Jawa Barat ini justru mendapatkan perlakuan yang buruk dari orangtuanya.
Di usia muda, Dani justru ditelantarkan dan tak diizinkan masuk ke dalam rumah. Akibatnya, tiap malam Dani terpaksa tidur di pos jaga, sedangkan di siang hari kegiatannya hanya berkeliling kompleks dengan sepedanya.

"Jadi sebenarnya kasus ini sudah lama terjadi beberapa bulan yang lalu, namun sempat hilang. Mungkin dia (Dani) mencoba untuk kembali ke rumahnya. Namun sekarang sekitar sebulan yang lalu kasus ini muncul lagi," jelas Sugeng Pribadi, Ketua RT 03/11 Kelurahan Jati Karya, Kecamatan Jati Sampurna, Bekasi ketika dihubungi, Rabu (13/5).

Lebih lanjut Sugeng menjelaskan selain ditelantarkan oleh kedua orangtuanya, Dani juga sudah tidak bersekolah lagi. Selain itu, beberapa tetangga juga kerap mendengar jeritan Dani di malam hari, seolah tengah disiksa.

Sementara itu, ketika ada tetangga yang mencoba menampung Dani, khususnya saat malam hari, maka orangtua Dani akan melabraknya. Orangtua Dani bersikeras, bahwa upaya itu merupakan caranya dalam mendidik anak.

"Saya belum pernah melihat secara langsung kekerasan tersebut tapi menurut pengakuan warga yang rumahnya berdekatan, Dani sering nangis pas malam hari dan dikunciin di dalam rumah. Kata orangtuanya ini sebagai bentuk didikan buat Dani," imbuh Sugeng.

Akibat dari penelantaran itu, kondisi fisik dan kejiwaan Dani kian memprihatinkan. Bukan hanya Dani, kondisi saudara perempuannya pun juga turut memprihatinkan, meski tak mendapat perlakuan yang sama seperti Dani.

Menurut pengakuan Dani, orangtuanya bekerja sebagai dosen di sebuah universitas. Namun para warga tidak mengetahui jelas pekerjaan mereka.

"Orangtuanya punya empat atau lima anak, semuanya perempuan dan Dani laki-laki sendirian. Mereka sering keluar kota dan cuma Dani yang engga diajak. Tapi ketua RT melihat kondisi anak perempuannya juga lusuh. Bahkan semuanya juga udah enggak sekolah," ujar Sugeng.

Saat ini Dani hanya mendapat bantuan makanan dan pakaian dari tetangga yang peduli. Warga juga telah mencoba untuk bertemu orangtua Dani, namun tidak ada jawaban yang memuaskan.

Oleh karena itu, Sugeng bersama warga berencana untuk mendatangi rumah Dani dan berbicara langsung dengan orangtua Dani. Selain itu, Sugeng juga sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk menyelesaikan kasus ini.

"Besok rencana saya mau datang ke rumahnya. Kebetulan Sekjen KPAI juga sudah saya hubungi karena ada orangnya yang tinggal di dekat rumah Dani. Jadi sekitar pukul 08.00 WIB, kami akan ke sana. Semoga mereka ada di rumah karena memang susah ditemui," pungkasnya.
Baca Selengkapnya :
 


VI. Analisis Kasus
Sesuai dengan definisinya Child Abuse yang termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya / pengasuh. (Fontana, 1998).

Faktor penyebab penelantaran anak pada kasus diatas adalah karena orang tua si anak mengumsumsi obat/narkoba hal ini diperkuat  Polisi menemukan paket shabu seberat 0,5 gram yang sudah siap dipakai di lantai dua rumah yang berlokasi di kawasan Citra Grand, Cibubur, Jawa Barat. Utomo dan istrinya juga sudah menjalani tes urine dan dinyatakan positif. Keduanya juga sudah mengaku memakai barang haram tersebut sejak enam bulan yang lalu.

Dalam kasus ini termasuk klasifikasi child abuse neglect (mengabaikan) karena Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak,seperti tidak memberikan rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, atau meninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya.

Indikator fisik–kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk,kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak ditangani.Indikator kebiasaan. Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian yang kurang memadai ( pada musim dingin ), ditinggalkan hal ini juga diperkuat dengan korban penelantaran anak terjangkit penyakit kulit (cacar) dan sering terlihat oleh tetangganya tidur di pos  satpam, mereka makan juga diberi oleh tetangga mereka yang merasa iba dengan kondisi korban.

Dampak child abuse ini adalah Penelantaran Anak
Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal iniadalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak,Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
Maka dari itu kelima korban sekarang berada di Safe House milik KPAI untuk menjalankan proses terapis untuk pemulihan trauma psikis mereka.

V. DAFTAR PUSTAKA
Anna Budi Keliat,Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak . FIK UI, 1998
Dimas, Muhammad Rasyid,.Kesalahan dalam mendidik anak.Jakarta: Pustaka al-Kautsar,2006.