Selasa, 29 Maret 2016

Terapi Client Center

Centered Theory sering juga disebut Psikoterapi Non Directive, atau Person Centered  Theory,  yaitu  suatu  metode  perawatan  psikis  yang  dilakukan  dengan  cara berdialog  antara  konselor  dengan  klien,  agar  tercapai  gambaran  yang  serasi  antara ideal self (diri klien  yang  ideal) dengan actual  self ( diri klien  sesuai kenyataan  yang sebenarnya)

Tujuan konseling dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu.

  1. Tujuan  personality  grow type,  misalnya  pertumbuhan  gaya  hidup  secara  positif, pengintegrasian kepribadian, atau pengurangan konflik konflik intrapsikis.
  2. Cure  type,  berisi  tujuan  yang  lebih  spesifik,  misalnya,  reduksi  simptom-simptom rasa  sakit,  menjadi  lebih  tegas  (assertive),  membuat  keputusan  vokasionla  yang efektif, dsb
Kelebihan dari teori konseling Client-Centered yaitu 

  1. pemusatan pada klien dan bukan pada therapist,
  2.  identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian, 
  3.  lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik,
  4.   memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif,
  5.   penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi,
  6.   menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis,
  7.  klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya,
  8. klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

Kekurangan dari teori konseling client-centered ini yaitu

  1. terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana,
  2. terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan, tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu,
  3. tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggung jawabnya
  4. sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal,
  5.   terapi menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif
Konseling client-centered memiliki berbagai teknik diantaranya :

  1.  Menerima,
  2.  Keselarasan (congruence),
  3.  Pemahaman,
  4.   Mampu mengkomunikasikan sifat-sifat khas ini,
  5.  Hubungan yang membawa akibat,
  6. Teknik permisif.
Proses Client Center Terapi :

  1. Tahap pertama, dicirikan dengan ketidakmauan untuk mengkomunikasikan apapun tentang diri
  2. Tahap kedua, klien menjadi lebih sedikit tidak kaku.
  3. Tahap ketiga, mereka lebih bebas membicarakan diri mereka walaupun masih sebagai objek. Contohnya : “saya melakukan yang terbaik dalam bekerja tetapi bos masih saja tidak menyukainya”
  4. Tahap keempat, mulai berbicara mengenai perasaan yang mendalam tetapi bukan yang sedang dirasakan saat itu. Contohnya : “saya merasa sangat marah ketika guru saya menuduh bahwa saya melakukan kecurangan.
  5. Tahap kelima, mereka mulai melalui perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. Mereka dapat mengekspresikan perasaan mereka walaupun belum secara akurat masih dalam bentuk simbolisasi.
  6. Tahap keenam, mengalami perkembangan yang dramatis dan pergerakan menuju seseorang manusia yg berfungsi sepenuhnya atau aktualisasi diri.
  7. Tahap ketujuh, dapat terjadi diluar terapi karena pertumbuhan pada tahap 6 dan tahap 7 adalah proses yang tidak dapat di putar balik
Daftar Pustaka:
Feist & Feist. (2014). Teori kepribadian edisi 7 buku 2. Jakarta: Salemba Humanika

Windayani, K.V, Dharsana & Suranata, K. (2014). Penerapan konseling client-centered dengan teknik permisifuntuk meningkatkan harga diri siswa kelas x. iis 2 SMA Negeri 2 Singaraja. e-journal Undiksa Jurusan Bimbingan Konseling. 2 (01). 1-10

Rabu, 23 Maret 2016

Terapi Holistik



Holistik adalah saduran kata dari bahasa inggris yaitu “Holistik” yang menkankan pentingnya keseluruhan dan saling keterkaitan. Jika kata holistik ini dipakai dalam rangka pelayanan kepada orang lain yang membutuhkan mak mempunyai arti layanan yang diberikan kepada sesama atau manusia secara utuh baik secara fisik, mental, sosial dan spiritual mendapat perhatian yang seimbang

Kembali pada hakikat penciptaan, tuhan menciptakan manusia itu tidak hanya memperhatikan fisiknya saja, mentalnya saja, sosialnya saja atau bahkan hanya memperhatikan spiritualnya saja tetapi utuh, keutuhan ciptaan Allah kepada manusia. Demikian pula jika kita ingin memberikan layanan kepada orang lain yang membutuhkan, kita perlu mendasarkan pelayanan kita kepada keutuhan tersebut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual.

Secara sosial holistik perkembangan sebagai proses holistik yaitu perkembangan terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu melainakn keseluruhan aspek yang saling terjalin satu sama lain. 3 Proses perkembangan individu:
1.      Proses biologi
2.      Proses kognitif
3.      Proses psikososial



Holistic terapy adalah (current Trend of Person Centered). Menunjukkan kepada kecendrungan mutakhir konseling atau psikoterapy berpusat pada pribadi untuk berpandangan lebih bebas mengenai manusia, upaya pemahaman dimensi sosial dan komunikasi pemikiran, tingkah laku.

Person-centered therapy dikembangkan terutama oleh Carl Rogers, terapi yang bepusat pada orang atau klien ini di dasari pada kepercayaan bahwa klien memiliki kemampuan untuk maju dan membatasi permasalahan-permasalahannya. Secara konstruktif, jika terdapat kondisi-kondisi yang mendorong terjadinya pertumbuhan.

Kepercayaan terhadap kapasitas klien untuk mengembangkan dirinya sendiri bertolak belakang dengan banyak teori yang memandang bahwa tehnik terapy merupakan faktor yang menentukan dalam proses perkembangan klien.

Menurut rogers, terdapat 3 atribut terapis yang diperlukan agar tercipta iklim yang mendorong pertumbuhan individual:
1.      Kongruensi atau kesejatian diri terapis
2.      Penerimaan positif yang tidak bersyarat
3.      Empati yang akurat

Menurut Rogers apabila terapis mengkomunikasikan atribut-atribut tersebut. Maka klien akan menurunkan tingkat pertahanan dirinya lebih terbuka terhadap diri dan dunia di sekelilingnya dan akan menunjukkan perilaku yang konstruktif dan pro sosial. Tujuan konseling adalah untuk membebaskan klien dari pandangan dirinya yang mengekang dan menciptakan kondisi sehingga klien mampu untuk terlibat dalam pencaharian diri yang lebih bermakna.

Kecendrungan yang merealisasikan diri (Actualiting Tendency) merupakan proses kearah tertentu sehingga terciptanya pemenuhan diri, antonomi, self determination dan kesempurnaan.
Dorongan untuk tumbuh yang berasal dari dalam diri merupakan kekuatan internal untuk penyembuhan diri bersama-sama dengan faktor-faktor lingkungan interdependensi dan sosialisasi. Karena adanya kapasitas inheren untuk mengatasi maladjustment


Daftar Pustaka :
 Istifah, M, 2008 Pendidikan Holistik, Departemen ilmu keluarga dan konsumen, institute pertanian bogor.
 Mewangi IR, Melly I, Wahyu F.D, 2005, Pendidikan Holistik, Cimanggis, Indonesia.

Senin, 14 Maret 2016

Terapi Transpersonal

Definisi Terapi Transpersonal

Menurut Dawin (dalam Prabowo, 2007) psikoterapi transpersonal adalah betul-betul eklektik, penggambaran dari teknik-teknik dan pemahaman dari variasi psikologis yang luas dan sumber sumber spiritualitas. Psikoterapi transpersonal berhadapan dengan permasalahan psikologis dengan cakupan yang luas dan dengan teknik-teknik yang puas pula, diantaranya modifikasi perilaku, restrukturisasi kognitis, psikologi gestalt, psikodinamika, terapi musik, dan seni serta meditasi.

Model Terapi Transpersonal

Bersadarkan pengalaman dalam mempraktekkan psikoterapi transpersonal, dapat dikembangkan model psikoterapi transpersonal seperti pada Gambar 1.
Teknik-teknik kesadaran yang digunakan adalah terapi meditasi (tarikan nafas), terapi musik, visualisasi, letting go, dan spiritual bibliothetapy. Dengan menangani beragam kasus seperti diabetes melitus, obesitas, korban KDRT, psikosomatis, korban poligami, dan korban perselingkuhan; dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu keterlibatan emosi dan perasaan serta letting go, adanya penilaian, perlu tidaknya terapi melakukan intervensi secara direktif atau tidak, dan fenomena  sistem COEX.

Keterlibatan Emosi dan perasaaan serta letting go
Pada kasus yang melibatkan emosi berkaitan dengan perasaan-perasaan, hasrat, keinginan (will menurut Assagioli atau desire menurut Hawkins (dalam Prabowo, 2007). Proses letting go dapat dilakukan melalui perasaan yang terdalam (the deepest feeling), situasi menurut Mahrer (dalam Prabowo, 2007)  dan sub kepribadian Rueffler, (dalam Prabowo, 2007). 

Sementara pada kasus diabetes melitus dan obesitas, pengalaman perubahan kesadaran (altered state of consciousness experience) sangat diperlukan sebelum dilakukan visualisasi.
Istilah letting go yang paling banyak dibahas dalam makalah ini seringkali dipertukarkan dengan release yang memiliki makna yang sama, yaitu: melepaskan.

Corey (dalam Prabowo, 2007) menggunakan istilah letting go dalam pengertian melepaskan, berkaitan dengan luka dan dendam, dan rasa bersalah, serta pola-pola yang merusak diri sendiri  seperti  pikiran,  perasaan,  dan  perilaku.




Gow (dalam Prabowo, 2007) lebih lengkap dalam mengungkap letting go, meskipun masih dalam pengertian yang sama dengan release. Gow menjelaskan bahwa letting go dalam beberapa hal antara lain:

Pertama, letting go secara teknis dapat dilakukan bagi yang tidak sehat secara fisik, mengalami hambatan psikologis dan keterbatasan spiritual. Secara psikologis, letting go dapat dilakukan untuk melepaskan baik kekhawatiran di masa lalu maupun kecemasan di masa depan. Gow juga menambahkan bahwa letting go dapat juga dilakukan untuk melepaskan luka, keadaan yang menekan atau gangguan mental.

Kedua, letting go dapat  dilakukan dengan memfokuskan pada masa kini. Gow juga menyarankan bahwa teknik meditasi dapat membantu seseorang dalam melakukan letting go.


Ketiga, hal-hal yang dapat dilepaskan dengan teknik letting go antara lain adalah kata- kata, citra, emosi, atau aktivitas-aktivitas di dalam pikiran lainnya.

Dwoskin  (dalam Prabowo, 2007)  menambahkan beberapa hal yang dilepaskan dalam letting go, yaitu:
1.  Perasaan, yang meliputi sembilan emosi yaitu: apatis, sedih, takut, nafsu, marah, bangga, semangat, menerima, dan ikhlas.
2.    Resistensi, yaitu seperti kehilangan gairah di tengah jalan. Dalam keadaan resistensi, seseorang:
a.     merasa seperti mencoba untuk bergerak ke depan namun tiba-tiba berhenti
b.    merasa ”saya harus” melakukan sesuatu
c.     merasa dan berikir ”saya tidak bisa”
d.    ketika tidak dapat memutusan atau tidak melakukan sesuatu, namun tetap melakukannya dan merasa kesulitan
e.     seperti mendesak melawan dunia, sehingga justru akan mendesak balik
3.   Perasaan dari hasrat untuk merubah sesuatu, dimana sesuatu di sini adalah apapun dalam hidup seseorang, di dalamnya tercakup pengalaman pribadi, termasuk pengalaman masa lalu.
4. Hasrat, yang terdiri dari hasrat untuk mengatur, hasrat untuk diakui, hasrat untuk menjadi aman, hasrat untuk menjadi terpisah, dan hasrat menjadi seseorang.

Adanya Penilian

Adanya penilaian pada saat latihan awal teknik- teknik kesadaran. Yang sebenarnya dibutuhkan dalam latihan meditasi atau teknik kesadaran lainnya adalah penerimaan dan bukannya penilaian atau jugment (Kabat-Zinn, 2003; Riskin, 2004; Grossman, Niemann, Schmidt & Walach, 2004; Shapiro, Astin, Bishop & Cordova, 2005; Toneatto, Vettese & Nguyen, 2007). Ada tidaknya penilaian ini akan berpengaruh pada proses terapi selanjutnya.
Cara yang dapat digunakan untuk mengatasi penilaian (atau dalam istilah Dwoskin adalah resistensi) adalah juga dengan letting go seperti disajikan terdahulu.

Fenomena Sistem Coex

Keempat, adalah intensitas latihan teknik kesadaran yang  dilakukan oleh  klien berkaitan dengan proses  terapinya. Dalam  proses  terapi yang dilakukan secara intensif adakalanya diikuti dengan pengalaman kondensasi, gejala fisik, dan ketegangan.

Fenomena sistem Coex (Condensed Experience) adalah kumpulan ingatan dari beragam periode kehidupan individu  yang ditandai oleh adanya ”serangan emosional yang kuat” (Kjellgren & Norlander (dalam Prabowo, 2007). 

Klien dengan pengalaman seperti ini seyogyanya diberikan penjelasan bahwa hal ini memang bisa saja terjadi dan  tidak menganggap  dirinya psikosis. Sementara jika muncul gejala fisik dan ketegangan, latihan-latihan teknik letting go dapat dilakukan kembali, dimana pada kasus ketegangan pendampingan selama terapi harus dilakukan.

Daftar Pustaka
Prabowo, H. (2007). Mengembangkan model psikoterapi transpersonal. Jurnal Penelitian Psikologi Universitas Gunadarama, 4(1), 59-64