Senin, 14 Maret 2016

Terapi Transpersonal

Definisi Terapi Transpersonal

Menurut Dawin (dalam Prabowo, 2007) psikoterapi transpersonal adalah betul-betul eklektik, penggambaran dari teknik-teknik dan pemahaman dari variasi psikologis yang luas dan sumber sumber spiritualitas. Psikoterapi transpersonal berhadapan dengan permasalahan psikologis dengan cakupan yang luas dan dengan teknik-teknik yang puas pula, diantaranya modifikasi perilaku, restrukturisasi kognitis, psikologi gestalt, psikodinamika, terapi musik, dan seni serta meditasi.

Model Terapi Transpersonal

Bersadarkan pengalaman dalam mempraktekkan psikoterapi transpersonal, dapat dikembangkan model psikoterapi transpersonal seperti pada Gambar 1.
Teknik-teknik kesadaran yang digunakan adalah terapi meditasi (tarikan nafas), terapi musik, visualisasi, letting go, dan spiritual bibliothetapy. Dengan menangani beragam kasus seperti diabetes melitus, obesitas, korban KDRT, psikosomatis, korban poligami, dan korban perselingkuhan; dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu keterlibatan emosi dan perasaan serta letting go, adanya penilaian, perlu tidaknya terapi melakukan intervensi secara direktif atau tidak, dan fenomena  sistem COEX.

Keterlibatan Emosi dan perasaaan serta letting go
Pada kasus yang melibatkan emosi berkaitan dengan perasaan-perasaan, hasrat, keinginan (will menurut Assagioli atau desire menurut Hawkins (dalam Prabowo, 2007). Proses letting go dapat dilakukan melalui perasaan yang terdalam (the deepest feeling), situasi menurut Mahrer (dalam Prabowo, 2007)  dan sub kepribadian Rueffler, (dalam Prabowo, 2007). 

Sementara pada kasus diabetes melitus dan obesitas, pengalaman perubahan kesadaran (altered state of consciousness experience) sangat diperlukan sebelum dilakukan visualisasi.
Istilah letting go yang paling banyak dibahas dalam makalah ini seringkali dipertukarkan dengan release yang memiliki makna yang sama, yaitu: melepaskan.

Corey (dalam Prabowo, 2007) menggunakan istilah letting go dalam pengertian melepaskan, berkaitan dengan luka dan dendam, dan rasa bersalah, serta pola-pola yang merusak diri sendiri  seperti  pikiran,  perasaan,  dan  perilaku.




Gow (dalam Prabowo, 2007) lebih lengkap dalam mengungkap letting go, meskipun masih dalam pengertian yang sama dengan release. Gow menjelaskan bahwa letting go dalam beberapa hal antara lain:

Pertama, letting go secara teknis dapat dilakukan bagi yang tidak sehat secara fisik, mengalami hambatan psikologis dan keterbatasan spiritual. Secara psikologis, letting go dapat dilakukan untuk melepaskan baik kekhawatiran di masa lalu maupun kecemasan di masa depan. Gow juga menambahkan bahwa letting go dapat juga dilakukan untuk melepaskan luka, keadaan yang menekan atau gangguan mental.

Kedua, letting go dapat  dilakukan dengan memfokuskan pada masa kini. Gow juga menyarankan bahwa teknik meditasi dapat membantu seseorang dalam melakukan letting go.


Ketiga, hal-hal yang dapat dilepaskan dengan teknik letting go antara lain adalah kata- kata, citra, emosi, atau aktivitas-aktivitas di dalam pikiran lainnya.

Dwoskin  (dalam Prabowo, 2007)  menambahkan beberapa hal yang dilepaskan dalam letting go, yaitu:
1.  Perasaan, yang meliputi sembilan emosi yaitu: apatis, sedih, takut, nafsu, marah, bangga, semangat, menerima, dan ikhlas.
2.    Resistensi, yaitu seperti kehilangan gairah di tengah jalan. Dalam keadaan resistensi, seseorang:
a.     merasa seperti mencoba untuk bergerak ke depan namun tiba-tiba berhenti
b.    merasa ”saya harus” melakukan sesuatu
c.     merasa dan berikir ”saya tidak bisa”
d.    ketika tidak dapat memutusan atau tidak melakukan sesuatu, namun tetap melakukannya dan merasa kesulitan
e.     seperti mendesak melawan dunia, sehingga justru akan mendesak balik
3.   Perasaan dari hasrat untuk merubah sesuatu, dimana sesuatu di sini adalah apapun dalam hidup seseorang, di dalamnya tercakup pengalaman pribadi, termasuk pengalaman masa lalu.
4. Hasrat, yang terdiri dari hasrat untuk mengatur, hasrat untuk diakui, hasrat untuk menjadi aman, hasrat untuk menjadi terpisah, dan hasrat menjadi seseorang.

Adanya Penilian

Adanya penilaian pada saat latihan awal teknik- teknik kesadaran. Yang sebenarnya dibutuhkan dalam latihan meditasi atau teknik kesadaran lainnya adalah penerimaan dan bukannya penilaian atau jugment (Kabat-Zinn, 2003; Riskin, 2004; Grossman, Niemann, Schmidt & Walach, 2004; Shapiro, Astin, Bishop & Cordova, 2005; Toneatto, Vettese & Nguyen, 2007). Ada tidaknya penilaian ini akan berpengaruh pada proses terapi selanjutnya.
Cara yang dapat digunakan untuk mengatasi penilaian (atau dalam istilah Dwoskin adalah resistensi) adalah juga dengan letting go seperti disajikan terdahulu.

Fenomena Sistem Coex

Keempat, adalah intensitas latihan teknik kesadaran yang  dilakukan oleh  klien berkaitan dengan proses  terapinya. Dalam  proses  terapi yang dilakukan secara intensif adakalanya diikuti dengan pengalaman kondensasi, gejala fisik, dan ketegangan.

Fenomena sistem Coex (Condensed Experience) adalah kumpulan ingatan dari beragam periode kehidupan individu  yang ditandai oleh adanya ”serangan emosional yang kuat” (Kjellgren & Norlander (dalam Prabowo, 2007). 

Klien dengan pengalaman seperti ini seyogyanya diberikan penjelasan bahwa hal ini memang bisa saja terjadi dan  tidak menganggap  dirinya psikosis. Sementara jika muncul gejala fisik dan ketegangan, latihan-latihan teknik letting go dapat dilakukan kembali, dimana pada kasus ketegangan pendampingan selama terapi harus dilakukan.

Daftar Pustaka
Prabowo, H. (2007). Mengembangkan model psikoterapi transpersonal. Jurnal Penelitian Psikologi Universitas Gunadarama, 4(1), 59-64


Tidak ada komentar:

Posting Komentar