KELOMPOK BUNGA CEMPAKA
- RISKA INDRASWARI
- PRIMA NUR HAKIM
- NATASHA ERINIA
- YANITA RAHMA JUITA
- MUHAMMAD AL-AZHAR
- AULIA KUSAMA
Pendahulan
Pengaruh merupakan daya yang dimiliki setiap manusia
untuk ikut menaruh kepercayaan atau perbuatan ke seseorang. Pengaruh sendiri
ini bertujuan untuk mempersuasif seseorang agar mau melakukan apa yang kita
inginkan. Banyak cara untuk mempengaruhi baik secara internal ataupun
eksternal. Biasanya orang memiliki wewenang atau kekuasaan adalah orang yang
sangat bisa mempengaruhi orang atau orang yang mengikut berpengaruh.
Definisi Pengaruh
Pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah daya yang ada dan timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk
watak, kepercayaan atau perbuataan seseorang. Dari pengertian di atas telah
dikemukakan sebelumnya bahwa pengaruh adalah merupakan sesuatu daya yang dapat
membentuk atau mengubah sesuatu yang lain.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi pengaruh
menurut para ahli:
1.
Wiryanto
Pengaruh merupakan tokoh formal mauoun informal di
dalam masyarakat, mempunyai ciri lebih kosmopolitan, inovatif, kompeten, dan
aksesibel dibanding pihak yang dipengaruhi.
2. M.
Suyanto (AMIKOM YOGYAKARTA)
Pengaruh merupakan nilai kualitas suatu iklan
melalui media tertentu.
3. Uwe
Becker
Pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang yang
- berbeda dengan kekuasaan - tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan
dan memaksakan kepentingan (involed is formatif vermogen dat - in tegens
telling tot macht - niet direct verbonden is met strijd en de doorzetting van
belangen).
4. Norman
Barry
Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika
seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan
terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak
merupakan motivasi yang mendorongnya (influence is a type of power in that a
person who is influenced to act in a certain way may be said to be caused so to
act, even though an overt threat of santions will not be the motivating force).
5. Robert
Dahl
A mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat
menyebabkan B untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak akan B lakukan.
6. Sosiologi
Pedesaan
Pengaruh merupakan kekuasaan yang mengakibatkan
perubahan perilaku orang lain atau kelompok lain.
7. Bertram Johannes
Otto Schrieke
Pengaruh merupakan bentuk dari kekuasaan yang tidak
dapat diukur kepastiannya.
8. Albert R.
Roberts & Gilbert
Pengaruh adalah wajah kekuasaan yang diperoleh oleh
orang ketika mereka tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan.
9. Jon
Miller
Pengaruh merupakan komoditi berharga dalam dunia
politik Indonesia
Kunci-Kunci Perubahan Perilaku
Secara definisi, masyarakat adalah kumpulan
individu-individu yang salingberinteraksi dan memiliki komponen perubahan yang
dapat mengikat satu individu dengan individu lain dengan perilakunya. Sedangkan
perubahan merupakan peralihan kondisi yang tadinya buruk, menjadi baik.
Masyarakat yang berubah adalah masyarakat yang terdiri dari satu individu
kepribadian (personality) baik. Personality tidak dibentuk dari performance dan
style seseorang, melainkan dari adannya daya intelektual dan perbuatan.
Oleh karena itu, kunci perubahan masyarakat adalah
membentuk daya intelektual dan perbuatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, sehingga terjadilah perubahan perilaku yang secara otomatis
diikuti dengan perubahan masyarakat. Maka, persoalan kemiskinan bisa berubah
jika terjadi perubahan perilaku di dalam masyarakat.
Perilaku yang akan menjadi kunci perubahan di
masyarakat adalah sikap yang mampu melalui berbagai benturan dengan gemilang,
adanya kepercayaan diri tanpa batas, dan tekad untuk terus berjuang hingga
titik nadir. Perubahan masyarakat akan berimplikasi terhadap perubahan
individu, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial yang dapat
mendidik manusia.
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu
stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi
spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak :
- Courage: diperlukan keberanian,kebulatan,tekad dan
keteguhan hati
- High confidence : kekuatan penggerak hidup anda
- Attitude: mental yang positif
- New action: tindakan yang benar-benar konsisten
- Goal: target atau tujuan yang benar-benar
diinginkan
- Excellence :menjadi yang terbaik
BAGAIMANA MEMPENGARUHI PERILAKU ORANG LAIN
A. Faktor Internal
Tingkah laku manusia adalah corak kegiatan yang
sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam dirinya. Faktor-faktor intern
yang dimaksud antara lain jenis ras/keturunan, jenis kelamin, sifat fisik,
kepribadian, bakat, dan intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan
secara lebih rinci seperti di bawah ini.
1) Jenis Ras/ Keturunan
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah
laku yang khas. Tingkah laku khas ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki
ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen
keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid
mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering
mengadakan upacara ritual. Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri
perilaku yang berbeda pula.
2) Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara
lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas
pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan karena faktor hormonal, struktur
fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan
perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas
pertimbangan rasional.
3) Sifat Fisik
Kretschmer Sheldon membuat tipologi perilaku
seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya, orang yang pendek, bulat,
gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan ciri demikian dikatakan
senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman
4) Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia
yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan
diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari
lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan
fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian
seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya
5) Intelegensia
Intelegensia adalah keseluruhan kemampuan individu
untuk berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif. Bertitik tolak dari
pengertian tersebut, tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh
intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah tingkah
laku intelegen di mana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah
terutama dalam mengambil keputusan
6) Bakat
Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang
memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu kecakapan,
pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa kemampuan memainkan musik,
melukis, olah raga, dan sebagainya
B. Faktor Eksternal
1) Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar
mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan
perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku
seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan
orang yang berpendidikan rendah.
2) Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku
sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
3) Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat
atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan
berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku
orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua.
4) Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan
berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu
dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu
terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat
dikuasainya.
5) Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan
tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga
status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku seseorang.
WEWENANG
Mengapa manajer dapat memerintah karyawan. Pada
situasi yang normal, manajer dapat membuat karyawan mengerjakan apa yang ia
perintahkan. Mengapa manajer dapat mendapatkan hak untuk memerintah.
Ada dua pandangan yang menjelaskan wewenang formal
(resmi):
1. Pandangan
klasik (classical view)
Wewenang datang dari tingkat paling atas, kemudian
secara bertahap diturunkan ke tingkat yang lebih bawah
2. Pandangan
penerimaan (acceptance view)
Sudut
pandang wewenang adalah
penerima perintah, bukannya
pemberi perintah. Pandangan ini
dimulai dengan pengamatan bahwa tidak semua perintah dipatuhi oleh penerima
perintah. Penerima perintah akan menentukan apakah akan menerima perintah atau
tidak.
Menurut Chester I. Bernard seseorang akan memenuhi
perintah apabila dipenuhi empat kondisi berikut:
- Dia dapat memahami komunikasi
- Dia percaya bahwa perintah tersebut tidak bertentangan dengan tujuan organisasi
- Perintah tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan secara keseluruhan, dan,
- Secara fisik dan mental mampu menjalankan perintah tersebut.
Wewenang Lini, Staff dan Fungsional :
1. Wewenang
Lini
Dimiliki oleh manajer lini yang mengambil keputusan
untuk mencapai tujuan organisasi secara langsung. Dalam bagan organisasi,
wewenang lini digambarkan oleh garis yang menghubungkan manajemen puncak sampai
ke manajemen tingkat bawah.
2. Wewenang
Staff
Dilakukan oleh orang atau kelompok orang yang
memberikan jasa atau nasehat kepada manajer lini. Staff ahli biasannya merupaka
istilah yang menggambarkan posisi tersebut. Staff ahli memberikan nasehat berdasarkan
keahlian, pengalamana, atau riset dan analisis yang diperlukan, termasuk
bantuan pelaksanaan kebijakan, monitor, dan pengendalian.
3. Wewenang
Fungsional
Kadang organisasi mempunyai manajer atau departemen
yang mempunyai wewenang fungsional. fungsi keuangan dan akuntansi sering
diberikan wewenang fungsional.
Delegasi Wewenang
Dapat diartikan sebagai penugasan wewenang dan
tanggung jawab formal organisasi kepada orang lain, dalam hal ini karyawan.
Wewenang dapat didelegasikan sesuai dengan prinsip skalar dari manajemen
klasik, yang mengatakan bahwa garis wewenang harus ditetapkan dengan jelas dari
manajemen puncak sampai karyawan paling bawah. Delegasi wewenang bukan
merupakan pelepasan tanggung jawab.
Keuntungan dan Halangan Delegasi Wewenang
Delegasi wewenang memungkinkan manajer menyelesaikan
lebih banyak pekerjaan daripada kalau semuanya dikerjakan sendiri. Kadang
bawahan mempunyai keahlian yang lebih dibandingkan dengan manajer untuk hal-hal
tertentu.
Beberapa manajer kadang enggan mendelegasikan wewenang
karena:
1. Tidak
yakin akan kemampuan bawahan
2. Merasa
mampu mengerjakan sendiri
3. Tidak
efisien untuk mengajari bawahannya melakukan tugas
4. Takut
wewenangnya akan berkurang, atau takut kalau bawahannya dapat melakukan tugas
lebih baik dibandingkan dirinya.
Karyawan kadang enggan menerima delegasi wewenang
karena beberapa alasan:
1. Takut
gagal
2. Merasa tidak
ada penghargaan untuk
krja yang akan
dilakukannya, atau tidak
mau menganggung risiko
3. Semua
risiko diserahkan atau ditanggung oleh manajer.
Delegasi Wewenang yang Efektif
1. Memutuskan
pekerjaan mana yang akan didelegasikan, karena tidak semua pekerjaan dapat
didelegasikan
2. Memutuskan
siapa yang akan memperoleh penugasan, dengan beberapa pertimbangan: waktu yang
dipunyai karyawan, kemampuan yang dimiliki karyawan, dan kesempatan yang akan
dimanfaatkan oleh karyawan
3. Mendelegasikan
tugas, disertai dengan informasi dan pemberian wewenang yang cukup, dan bentuk
hasil yang diharapkan
4.
Menetapkan Feedback, untuk memonitor kemajuan yang dicapai oleh bawahan.
SUMBER :
Kariyoso. 1994. Pengantar Komunikasi Bagi Siswa
Perawat. Jakarta: Penerbit EGC
Kusmiati, Sri. 1990. Dasar-dasar Perilaku. Jakarta:
Penerbit Depkes RI
Purwanto, Heri. 1999. Pengantar Perilaku Manusia,
Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit EGC.
Heru Basuki, A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta:
Gunadarma
Munandar, A. S. (2001). Psikologi Industri dan
Organisasi. Depok: Universitas Indonesia (UI Press)
Robbins, Stephen.P, dkk. (2008). Organizational
Behavior. Jakarta: Salemba Empat
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi
Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
http://viyan.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/15113/2_WEWENANG,+DELEGASI+DAN+DESENTRALISASI.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar