Senin, 04 April 2016

Terapi Behavior



Gerald corey (1997) menjelaskan bahwa behavior adalah pendekatan-pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang berkaitan dengan perubahan tingkah laku. Pendekatan teknik dan prosedur yang dilakukan berakar pada berbagai teori tentang belajar.

Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan dalam proses belajar agar dapat bertindak dan bertingkah laku lebih efektif dan efisien. Aktivitas inilah yang disebut belajar.


Masalah terapi behavior
Masalah masalah dalam terapi behavior adalah perilaku-perilaku yang tidak sesuai harapan artinya kebiasaan negative atau tidak tepat. (Latipun, 2001)

Perilaku seperti ini merupakan hasil dari interaksi yang salah dengan lingkungannya sehingga mengakibatkan penyimpangan perilaku. Jadi perilaku yang tidak sesuai harapan dan tingkah laku yang sama sekali berbeda dengan perilaku normal merupakan masalah dalam terapi behavior.
 
Tujuan Terapi Behavior
Menurut Latipun (2001) bahwa tujuan terapi behavior adalah mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku simptomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami atau hambatan perilaku, yang dapat membuat ketidakpuasaan dalam jangka panjang, atau mengalami konflik dengan lingkungan sosial.

Berkaitan dengan definisi diatas, dapat diambil secara umum bahwa tujuan terapi behavior adalah :
  1. Mengapus pola tingkah laku maladaptive atau maladjustment
  2. Membantu belajar tingkah laku konstruktid
  3. Merubah tingkah laku


Langkah-Langkah Terapi Behavior
Menurut Wingkel (2010) ada beberapa fase dalam proses konseling dan layangan konseling individualnya yaitu :
  • a. Pembukaan, membangun hubungan pribadi antara konselor dan konseling.
1.   Menyambut kedatangan konselee
2.   Mengajak berbasa basi sebentar
3.   Menjelaskan kekhususan dari berwawancara konseling
4.   Mempersilahkan konselee untuk mengemukakan hal yang ingin dibicarakan
  • b. Penjelasan, menerima ungkapan konselee apa adanya serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Berusaha menentukan jenis masalah dan pendekatan konseling yang sebaiknya diambil.
  • c. Penggalian latar belakang masalah, mengadakan analisa kasus sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.
  • d. Penyelesaian masalah, menyalurkan arus pemikiran konselee sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.
  • e. Penutup, mengakhiri hubungan pribadi dengan konselee.
1.   Memberikan ringkasan jalannya pembicaraan.
2.   Menegaskan kembali ketentuan/keputusan yang ingin diambil.
3.    Memberikan semangat
4.     Menawarkan bantuan bila kelak timbul persoalan baru
5.    Berpisah dengan konselee
Dari uraian diatas tentang fase/ tahap proses konseling fase 2,3 dan 4 merupakan inti dari proses konseling.


Teknik-Teknik Terapi Behavior.
Untuk mencapai tujuan dalam proses konseling diperlukan teknik-teknik yang digunakan. Untuk mengubah perilaku ada sejumlah teknik yang dapat dilakukan yaitu :

  •  Desensitisasi sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk mengapus yang diperkuat secara negatif biasanya berupa kecemasan, dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang berangsur dan santai.

  •  Terapi implosif
Terapi ini dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang-ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus yang menimbulkan kecemasan.

  •   Latihan perilaku asertif
Terapi ini digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.

  •   Pengkondisian aversi
Teknik ini digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya.

  • Pembentukan perilaku model
Teknik ini digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukan kepada klien tentang perilaku model, baik menggunakan model audio, model fisik atau lainnya yang dapat diamati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.

  •  Kontrak perilaku
Kontrak perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dan klien) untuk mengubah perilaku tertentu pada klien. Dalam terapi konselor memberikan ganjaran positif dipentingkan daripada memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.

Daftar Pustaka
 
Corey, G. (1997). Konseling dan psikoterapi. Bandung: Rafika Aditama
Latipun. (2001). Psikologi konseling. Malang: UMM Press
Wingkel. (2010). Bimbingan dan konseling di institusi pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar