Gerald corey (1997) menjelaskan
bahwa behavior adalah pendekatan-pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi
yang berkaitan dengan perubahan tingkah laku. Pendekatan teknik dan prosedur
yang dilakukan berakar pada berbagai teori tentang belajar.
Terapi behavior adalah salah satu
teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh
dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang
dilakukan dalam proses belajar agar dapat bertindak dan bertingkah laku lebih
efektif dan efisien. Aktivitas inilah yang disebut belajar.
Masalah terapi behavior
Masalah masalah dalam terapi
behavior adalah perilaku-perilaku yang tidak sesuai harapan artinya kebiasaan
negative atau tidak tepat. (Latipun, 2001)
Perilaku seperti ini merupakan
hasil dari interaksi yang salah dengan lingkungannya sehingga mengakibatkan
penyimpangan perilaku. Jadi perilaku yang tidak sesuai harapan dan tingkah laku
yang sama sekali berbeda dengan perilaku normal merupakan masalah dalam terapi
behavior.
Tujuan Terapi Behavior
Menurut Latipun (2001) bahwa
tujuan terapi behavior adalah mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku
simptomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami atau hambatan perilaku, yang dapat
membuat ketidakpuasaan dalam jangka panjang, atau mengalami konflik dengan
lingkungan sosial.
Berkaitan dengan definisi diatas,
dapat diambil secara umum bahwa tujuan terapi behavior adalah :
- Mengapus pola tingkah laku maladaptive atau maladjustment
- Membantu belajar tingkah laku konstruktid
- Merubah tingkah laku
Langkah-Langkah Terapi Behavior
Menurut Wingkel (2010) ada
beberapa fase dalam proses konseling dan layangan konseling individualnya yaitu
:
- a. Pembukaan, membangun hubungan pribadi antara konselor dan konseling.
1. Menyambut
kedatangan konselee
2. Mengajak
berbasa basi sebentar
3. Menjelaskan
kekhususan dari berwawancara konseling
4. Mempersilahkan
konselee untuk mengemukakan hal yang ingin dibicarakan
- b. Penjelasan, menerima ungkapan konselee apa adanya serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Berusaha menentukan jenis masalah dan pendekatan konseling yang sebaiknya diambil.
- c. Penggalian latar belakang masalah, mengadakan analisa kasus sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.
- d. Penyelesaian masalah, menyalurkan arus pemikiran konselee sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.
- e. Penutup, mengakhiri hubungan pribadi dengan konselee.
1. Memberikan
ringkasan jalannya pembicaraan.
2. Menegaskan
kembali ketentuan/keputusan yang ingin diambil.
3. Memberikan
semangat
4. Menawarkan
bantuan bila kelak timbul persoalan baru
5. Berpisah
dengan konselee
Dari uraian diatas tentang fase/
tahap proses konseling fase 2,3 dan 4 merupakan inti dari proses konseling.
Teknik-Teknik Terapi Behavior.
Untuk mencapai tujuan dalam
proses konseling diperlukan teknik-teknik yang digunakan. Untuk mengubah
perilaku ada sejumlah teknik yang dapat dilakukan yaitu :
- Desensitisasi sistematis
Desensitisasi sistematis
merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk mengapus yang diperkuat secara
negatif biasanya berupa kecemasan, dan menyertakan respon yang berlawanan
dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang
berangsur dan santai.
- Terapi implosif
Terapi ini
dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang-ulang
dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi yang menakutkan ternyata
tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk
membayangkan stimulus yang menimbulkan kecemasan.
- Latihan perilaku asertif
Terapi ini
digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan
dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.
- Pengkondisian aversi
Teknik ini
digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus
yang tidak menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut
terhambat kemunculannya.
- Pembentukan perilaku model
Teknik ini
digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, memperkuat perilaku yang
sudah terbentuk dengan menunjukan kepada klien tentang perilaku model, baik
menggunakan model audio, model fisik atau lainnya yang dapat diamati dan
dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.
- Kontrak perilaku
Kontrak perilaku
adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dan klien) untuk
mengubah perilaku tertentu pada klien. Dalam terapi konselor memberikan ganjaran
positif dipentingkan daripada memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.
Daftar Pustaka
Corey, G. (1997).
Konseling dan psikoterapi. Bandung:
Rafika Aditama
Latipun. (2001).
Psikologi konseling. Malang: UMM Press
Wingkel. (2010). Bimbingan dan konseling di institusi
pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar